3 ilmu dasar pengetahuan dan keterkaitannya dengan CRM (Costumer Relationship Management)
3 Kelompok Ilmu Pengetahuan
pada dasar pengelompokan ilmu pengetahuan dapat dikelompokan menjadi
tiga yaitu adalah Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Sosial, dan
Ilmu Pengetahuan Budaya atau yang lebih umum disebut adalah Ilmu
Pengetahuan Humaniora.
3. Penjelasan Ilmu Pengetahuan Budaya adalah ilmu-ilmu pengetahuan yang dianggap bertujuan membuat manusia lebih manusiawi, dalam arti membuat manusia lebih berbudaya. Kategori yang tergolong dalam ilmu ini seperti (Teologi, Filsafat,H ukum, Sejarah, Filologi, Bahasa, Budaya & Linguistik (Kajian bahasa), Kesusastraan, Kesenian, Psikologi). Sedangkan Ilmu Budaya Dasar adalah suatu ilmu yang mempelajari dasar dasar kebudayaan pola yang terjadi dalah kehidupan sehari - hari dalam manusia.
Pengelompokan ilmu pengetahuan ini yang mendasari pengembangan Ilmu Alamiah Dasar, Ilmu Sosial Dasar, dan Ilmu Budaya Dasar, Ilmu Pengetahuan Alam dan Ilmu Alamiah Dasar bisa di satu keterkaitkan dengan IPA Ilmu Pengetahuan Sosial dan Ilmu Sosial Dasar bisa di satu keterkaitkan dengan IPS Ilmu Pengetahuan Budaya dan Ilmu Budaya Dasar bisa di satu keterkaitkan dengan Humaniora pada dasarnya semuanya saling keterkaitkan dengan salah satu bidang yang sama dan tujuan yang sama.
1. Penjelasan Ilmu Pengetahuan Alam adalah istilah yang digunakan yang merujuk pada rumpun ilmu dimana obyeknya adalah benda-benda alam dengan hukum-hukum yang pasti dan umum, berlaku kapan pun dimana pun. sedangkan dari sisi Ilmu Alamiah Dasar adalah mempelajari tentang metode - metode ilmu kealaman dalam menjelaskan gejala - gejala alam secara lebih filosofis.
2. Penjelasan Ilmu Pengetahuan Sosial adalah sekelompok disiplin akademis yang mempelajari aspek-aspek yang berhubungan dengan manusia dan lingkungan sosialnya. Sedangkan Ilmu Sosial Dasar adalah pengetahuan yang menelaah masalah - masalah sosial, khususnya masalah - masalah yang diwujudkan oleh masyarakat Indonesia, dengan menggunakan teori - teori seperti (fakta, konsep, teori) yang berasal dari berbagai bidang pengetahuan keahlian dalam lapangan ilmu - ilmu sosial seperti (Geografi Sosial, Sosiologi, Antropologi Sosial, Ilmu Politik, Ekonomi, Psikologi Sosial dan Sejarah).
3. Penjelasan Ilmu Pengetahuan Budaya adalah ilmu-ilmu pengetahuan yang dianggap bertujuan membuat manusia lebih manusiawi, dalam arti membuat manusia lebih berbudaya. Kategori yang tergolong dalam ilmu ini seperti (Teologi, Filsafat,H ukum, Sejarah, Filologi, Bahasa, Budaya & Linguistik (Kajian bahasa), Kesusastraan, Kesenian, Psikologi). Sedangkan Ilmu Budaya Dasar adalah suatu ilmu yang mempelajari dasar dasar kebudayaan pola yang terjadi dalah kehidupan sehari - hari dalam manusia.
CRM (Costumer Relationship Management)
CRM (Costumer Relationship Management) adalah
sebuah pendekatan baru dalam mengelola hubungan korporasi dan pelanggan pada level bisnis sehingga dapat memaksimumkan komunikasi, pemasaran melalui pengelolaan berbagai kontak yang berbeda dengan pelanggan. Pendekatan ini memungkinakn untuk mempertahankan pelanggan dan memberikan nilai tambah terus menerus pada pelanggan, selain juga memperoleh keuntungan yang berkelanjutan. Hal yang perlu dipahami adalah bahwa dari luar, pelanggan yang berinterkasi dengan perusahaan hanya memahami bisnis yang dilakukan oleh perusahaan sebagai satu entitas, tidak lebih; meskipun pelanggan juga berinteraksi dengan sejumlah pekerja yang berbeda peran dan departemennya. Semua itu tetap dianggap sebagai satu kesatuan. Dengan CRM, dukungan pada proses bisnis, informasi tentang pelanggan dan interaksinya dapat dimasukkan, disimpan, diakses oleh semua staf pada berbagai unit kerja dengan tujuan untuk meningkatkan layanan yang diberikan pada pelanggan, dan menggunakan informasi kontak pelanggan untuk target pemasaran.
CRM (customer relationship management) mengkombinasikan kebijakan, proses, dan strategi yang diterapkan organisasi menjadi satu kesatuan yang digunakan untuk melakukan interaksi dengan pelanggan dan juga untuk menelusuri informasi pelanggan. Pada era saat ini, implementasi CRM selalu akan menggunakan teknologi informasi untuk menarik pelanggan baru yang mengguntungkan, hingga mereka memiliki keterikatan pada perusahaan.
Konsep ini juga banyak digunakan sebagai sebuah terminologi pada industri informasi sebagai sebuah metodologi, piranti lunak, dan bahkan sebagai kapabilitas internet yang membantu korporasi mengelola hubungan pelanggan. Piranti ini memungkinkan korporasi untuk menjelaskan hubungan secara cukup rinci sehingga manajemen, staf penjualan, staf pelayanan, dan bahkan pelanggan dapat secara langsung mengakses informasi, menyesuaikan kebutuhan antara kebutuhan dan produk, pengingatan pelanggan pada layanan tertentu, dan sebagainya. Dalam pengembangan piranti lunak CRM harus dilakukan pendekatan yang holistik. Terkadang inisiatif implementasi piranti lunak CRM gagal dilakukan karena hanya terbatas pada instalasi piranti saja, tanpa memperhatikan konteks, dukukangan dan pemahaman staf, dan pemenfaatan sepenuhnya sistem informasi.
Banyak aspek yang tercakup dalam CRM. Aspek tersebut pada umumnya akan berhubungan langsung dengan salah satu aspek berikut:
Variasi CRM
Ada beberapa perbedaan pendekatan CRM dengan paket piranti lunak dalam memfokuskan aspek yang berbeda. Beberapa diantara piranti lunak CRM yang dikenal adalah seperti berikut.
1. Operasional. Operational CRM memberikan dukungan untuk proses bisnis di front office, seperti untuk penjualan, pemasaran, dan staf pelayanan. Interaksi dengan pelanggan biasanya disimban dalam sejarak kontak pelanggan, dan staf dapat melihat kembali informasi pelanggan ketika dibutuhkan. Dengan sejarah kontak pelanggan ini, staf dapat dengan cepat memperoleh informasi penting. Dapat meraih pelanggan dalam waktu dan tempat yang tepat merupakan sesuatu yang sangat diinginkan.
2. Penjualan. Untuk penjualan biasa digunakan Sales Force Automation (SFA). SFA membantu untuk otomatisasi aktivitas yang terkait dengan staf penjualan, seperti untuk penjadwalan menghubungi pelanggan, pengiriman surat kertas maupun elektronik ke pelanggarn, menelusuri respon pelanggan, membuat laporan, menilai tingkat penjualan, proses order penjualan otomatis.
3. Analitik. Analytical CRM menganalisis data pelanggan untuk berbagai tujuan seperti merancang dan menjalankan kampanye target pemasaran, termasuk melakukan cross-selling, up-selling, aiatem informasi manajemen untuk forecasting keuangan dan analisis profitabilitas pelanggan.
4. Intelijen Penjualan. Intelijen Penjualan atau Sales Intelligence dalam CRM adalah sejenis dengan is similar to Analytical CRM, tetapi ditekankan lebih jauh untuk piranti penjualan langsung dengan fitur untuk mencari peluang Cross-selling/ Up-selling/ Switch-selling, kinerja penjualan, kecenderungan pelanggan, margin pelanggan.
5. Manajemen Kampanye. Campaign management mengkombinasikan elemen antara CRM operasional dan analitik agar dapat menjalankan fungsi pembentukan kelompok target dengan kriteria tertentu menggungakan data pelanggan, mengirimkan materi yang terkait dengan kampanye produk untuk calon tertentu menggunakan berbagai saluran seperti e-mail, telephone, SMS, dan surat, menelusuri, menyimpan dan menganalisis statistik kampanye.
6. Kolaboratif. Collaborative CRM mencakup aspek-aspek yang ditangani korporasi yang terkait dengan pelanggan pada berbagai departemen seperti pada bagian penjualan, dukungan teknis, dan pemasaran. Staf dari berbagai departemen pada korporasi yang sama dapat saling bertukar dan berbagi informasi yang dikumpulkan ketika berinteraksi dengan pelanggan. CRM jenis ini bertujuan untuk menggunakan informasi yang dikumpulkan secara bersama di semua departemen untuk peningkatkan kualitas pelayanan yang diberikan.
Strategi dan Implementasi
Sasaran untuk menjalankan strategi CRM harus mempertimbangkan situasi spesifik yang dihadapi perusahaan dan juga kebutuhan dan harapan pelanggan. Informasi yang didapat melalu inisiasi CRM dapat mendukung pengembangan strategi pemasaran dengan mengembangkan pengetahuan pada area-area tertentu seperti identifikasi segmen pelanggan, peningkatan retensi pelangggan, perbaikan produk yang disampaikan, juga identifikasi pelanggan blue chip (yang paling menguntungkan). Sasaran ini dilakukan dengan melakukan manipulasi informasi yang terkait yang selanjutnya dimanfaatkan bersama untuk ditransformasikan menjadi pengetahuan. Pengetahuan ini merupakan pengetahuan yang memungkinkan perusahaan dapat lebih memahami pelanggan, dan digunakan untuk menyesuaikan kapabilitas organisasi agar dapat memberikan nilai yang lebih baik bagi pelanggan. Strategi CRM bervaria dalam besaran, komplesitas, cakupanya. Hal ini akan berpengaruh pada tipe apa CRM dikembangkan. Strategi CRM yang efektif akan fokus pada berbagai saluran. Perusahaan harus secara efektif mengelola saluran ini untuk perbaikan pelayanan.
Kegagalan berbagai projek CRM terutama terkait dengan kualitas dan availabilitas data pelanggan. Data yang baik merupakan isu penting. Ketika perusahaan yang menggunakan CRM untuk menelusuri siklus hidup pendapatan, pembiayaan, margin keuntungan, dan interkasi dengan pelanggan secara individual, maka semua ini harus tergambarkan dengan jelas dalam suatu bisnis proses. Data yang digunakan harus dapat diambil dari berbagai sumber data yang ada di tiap departemen atau bidang yang ada di perusahaan. Sistem yang komprehensif dengan struktur yang telah didefinisikan dengan baik akan meningkatkan kualitas data yang dipakai dalam pengambilan keputusan. Meski saat ini banyak piranti lunak yang tersedia tentang CRM, namun perlu diingat bahwa CRM bukan sekedar teknologi namun lebih pada pendekatan komprehensif yang berpusat pada pelanggan. Implikasinya adalah kebijakan, proses, pelatihan staf, manajemen pemasaran, dan manajemen informasi. Dengan cara pandang ini, CRM merupakan hal yang dapat memberikan peran penting dalam usaha merekayasa proses penjualan untuk memberikan nilai tambah pada pelanggan.
Tujuan CRM Tujuan dari kerangka CRM adalah sebagai berikut :
MANFAAT/KEUNTUNGAN CRM
Selain beberapa pendapat tentang definisi dari CRM. Manfaat dan keuntungan dari CRM juga terdapat banyak pendapat diantaranya:
1. Penggunaan Customer Relationship Management ( CRM ) memiliki beberapa manfaat yang dapat berpengaruh bagi meningkatnya nilai suatu perusahaan yaitu :
sebuah pendekatan baru dalam mengelola hubungan korporasi dan pelanggan pada level bisnis sehingga dapat memaksimumkan komunikasi, pemasaran melalui pengelolaan berbagai kontak yang berbeda dengan pelanggan. Pendekatan ini memungkinakn untuk mempertahankan pelanggan dan memberikan nilai tambah terus menerus pada pelanggan, selain juga memperoleh keuntungan yang berkelanjutan. Hal yang perlu dipahami adalah bahwa dari luar, pelanggan yang berinterkasi dengan perusahaan hanya memahami bisnis yang dilakukan oleh perusahaan sebagai satu entitas, tidak lebih; meskipun pelanggan juga berinteraksi dengan sejumlah pekerja yang berbeda peran dan departemennya. Semua itu tetap dianggap sebagai satu kesatuan. Dengan CRM, dukungan pada proses bisnis, informasi tentang pelanggan dan interaksinya dapat dimasukkan, disimpan, diakses oleh semua staf pada berbagai unit kerja dengan tujuan untuk meningkatkan layanan yang diberikan pada pelanggan, dan menggunakan informasi kontak pelanggan untuk target pemasaran.
CRM (customer relationship management) mengkombinasikan kebijakan, proses, dan strategi yang diterapkan organisasi menjadi satu kesatuan yang digunakan untuk melakukan interaksi dengan pelanggan dan juga untuk menelusuri informasi pelanggan. Pada era saat ini, implementasi CRM selalu akan menggunakan teknologi informasi untuk menarik pelanggan baru yang mengguntungkan, hingga mereka memiliki keterikatan pada perusahaan.
Konsep ini juga banyak digunakan sebagai sebuah terminologi pada industri informasi sebagai sebuah metodologi, piranti lunak, dan bahkan sebagai kapabilitas internet yang membantu korporasi mengelola hubungan pelanggan. Piranti ini memungkinkan korporasi untuk menjelaskan hubungan secara cukup rinci sehingga manajemen, staf penjualan, staf pelayanan, dan bahkan pelanggan dapat secara langsung mengakses informasi, menyesuaikan kebutuhan antara kebutuhan dan produk, pengingatan pelanggan pada layanan tertentu, dan sebagainya. Dalam pengembangan piranti lunak CRM harus dilakukan pendekatan yang holistik. Terkadang inisiatif implementasi piranti lunak CRM gagal dilakukan karena hanya terbatas pada instalasi piranti saja, tanpa memperhatikan konteks, dukukangan dan pemahaman staf, dan pemenfaatan sepenuhnya sistem informasi.
Banyak aspek yang tercakup dalam CRM. Aspek tersebut pada umumnya akan berhubungan langsung dengan salah satu aspek berikut:
- Operasi Front office yang langsung berinteraksi dengan pelanggan seperti ketemu langsung, panggilan telepon, e-mail, layanan online, dll.
- Operasi Back office yang sangat berpengaruh pada aktivitas pada layanan di front office seperti bagian pembayaran, perawatan, perencanaan, pemasaran, dll.
- Hubungan bisnis, yaitu interaksi dengan perusahaan dan rekanan lain seperti suppliers/ vendors, outlet pengecer dan distribusi, jaringan industri. Jaringan eksternal ini akan mendukung aktivitas di front dan back office.
- Data kunci dalam CRM dapat dianalisis dengan tujuan melakukan perencanaan kampanye pada target pemasaran, memahami strategi bisnis, dan memutuskan keberhasilan aktivitas CRM seperti pangsa pasar, karakteristik pelanggan, pendapatan dan keuntungan.
Variasi CRM
Ada beberapa perbedaan pendekatan CRM dengan paket piranti lunak dalam memfokuskan aspek yang berbeda. Beberapa diantara piranti lunak CRM yang dikenal adalah seperti berikut.
1. Operasional. Operational CRM memberikan dukungan untuk proses bisnis di front office, seperti untuk penjualan, pemasaran, dan staf pelayanan. Interaksi dengan pelanggan biasanya disimban dalam sejarak kontak pelanggan, dan staf dapat melihat kembali informasi pelanggan ketika dibutuhkan. Dengan sejarah kontak pelanggan ini, staf dapat dengan cepat memperoleh informasi penting. Dapat meraih pelanggan dalam waktu dan tempat yang tepat merupakan sesuatu yang sangat diinginkan.
2. Penjualan. Untuk penjualan biasa digunakan Sales Force Automation (SFA). SFA membantu untuk otomatisasi aktivitas yang terkait dengan staf penjualan, seperti untuk penjadwalan menghubungi pelanggan, pengiriman surat kertas maupun elektronik ke pelanggarn, menelusuri respon pelanggan, membuat laporan, menilai tingkat penjualan, proses order penjualan otomatis.
3. Analitik. Analytical CRM menganalisis data pelanggan untuk berbagai tujuan seperti merancang dan menjalankan kampanye target pemasaran, termasuk melakukan cross-selling, up-selling, aiatem informasi manajemen untuk forecasting keuangan dan analisis profitabilitas pelanggan.
4. Intelijen Penjualan. Intelijen Penjualan atau Sales Intelligence dalam CRM adalah sejenis dengan is similar to Analytical CRM, tetapi ditekankan lebih jauh untuk piranti penjualan langsung dengan fitur untuk mencari peluang Cross-selling/ Up-selling/ Switch-selling, kinerja penjualan, kecenderungan pelanggan, margin pelanggan.
5. Manajemen Kampanye. Campaign management mengkombinasikan elemen antara CRM operasional dan analitik agar dapat menjalankan fungsi pembentukan kelompok target dengan kriteria tertentu menggungakan data pelanggan, mengirimkan materi yang terkait dengan kampanye produk untuk calon tertentu menggunakan berbagai saluran seperti e-mail, telephone, SMS, dan surat, menelusuri, menyimpan dan menganalisis statistik kampanye.
6. Kolaboratif. Collaborative CRM mencakup aspek-aspek yang ditangani korporasi yang terkait dengan pelanggan pada berbagai departemen seperti pada bagian penjualan, dukungan teknis, dan pemasaran. Staf dari berbagai departemen pada korporasi yang sama dapat saling bertukar dan berbagi informasi yang dikumpulkan ketika berinteraksi dengan pelanggan. CRM jenis ini bertujuan untuk menggunakan informasi yang dikumpulkan secara bersama di semua departemen untuk peningkatkan kualitas pelayanan yang diberikan.
Strategi dan Implementasi
Sasaran untuk menjalankan strategi CRM harus mempertimbangkan situasi spesifik yang dihadapi perusahaan dan juga kebutuhan dan harapan pelanggan. Informasi yang didapat melalu inisiasi CRM dapat mendukung pengembangan strategi pemasaran dengan mengembangkan pengetahuan pada area-area tertentu seperti identifikasi segmen pelanggan, peningkatan retensi pelangggan, perbaikan produk yang disampaikan, juga identifikasi pelanggan blue chip (yang paling menguntungkan). Sasaran ini dilakukan dengan melakukan manipulasi informasi yang terkait yang selanjutnya dimanfaatkan bersama untuk ditransformasikan menjadi pengetahuan. Pengetahuan ini merupakan pengetahuan yang memungkinkan perusahaan dapat lebih memahami pelanggan, dan digunakan untuk menyesuaikan kapabilitas organisasi agar dapat memberikan nilai yang lebih baik bagi pelanggan. Strategi CRM bervaria dalam besaran, komplesitas, cakupanya. Hal ini akan berpengaruh pada tipe apa CRM dikembangkan. Strategi CRM yang efektif akan fokus pada berbagai saluran. Perusahaan harus secara efektif mengelola saluran ini untuk perbaikan pelayanan.
Kegagalan berbagai projek CRM terutama terkait dengan kualitas dan availabilitas data pelanggan. Data yang baik merupakan isu penting. Ketika perusahaan yang menggunakan CRM untuk menelusuri siklus hidup pendapatan, pembiayaan, margin keuntungan, dan interkasi dengan pelanggan secara individual, maka semua ini harus tergambarkan dengan jelas dalam suatu bisnis proses. Data yang digunakan harus dapat diambil dari berbagai sumber data yang ada di tiap departemen atau bidang yang ada di perusahaan. Sistem yang komprehensif dengan struktur yang telah didefinisikan dengan baik akan meningkatkan kualitas data yang dipakai dalam pengambilan keputusan. Meski saat ini banyak piranti lunak yang tersedia tentang CRM, namun perlu diingat bahwa CRM bukan sekedar teknologi namun lebih pada pendekatan komprehensif yang berpusat pada pelanggan. Implikasinya adalah kebijakan, proses, pelatihan staf, manajemen pemasaran, dan manajemen informasi. Dengan cara pandang ini, CRM merupakan hal yang dapat memberikan peran penting dalam usaha merekayasa proses penjualan untuk memberikan nilai tambah pada pelanggan.
- Malthouse, Edward C; Bobby J Calder (2005). “Relationship Branding and CRM”. in Alice Tybout and Tim Calkins. Kellogg on Branding. Wiley. pp. 150–168.
- Rigby, Darrell K.; Frederick F. Reichheld, Phil Schefter (2002). “Avoid the four perils of CRM”. Harvard Business Review 80 (2): 101–109.
- Paul H. Selden (April/May 1996). “SFA Myths Abound“. Sales and Marketing Strategies & News 6 (3): 51 and 53.
- Paul H. Selden (November 2000). “The Power of Quality Thinking In Sales and Management“. Quality Progress: 58-64.
- Bligh, Philip; Douglas Turk (2004). CRM unplugged – releasing CRM’s strategic value. Hoboken: John Wiley & Sons. ISBN 0-471-48304-4.
- Paul H. Selden (1997). Sales Process Engineering: A Personal Workshop. Milwaukee, WI: ASQ Quality Press. p. 23.
Tujuan CRM Tujuan dari kerangka CRM adalah sebagai berikut :
- Menggunakan hubungan yang telah ada untuk menambah pendapatan. Perusahaan memandang pelanggan secara luas untuk memaksimalkan hubungan diantara mereka sehingga dapat meningkatkan profitabilitas perusahaan dengan mengidentifikasi, menarik dan mempertahankan pelanggan yang potensial.
- Menggunakan informasi yang terintegrasi untuk pelayanan yang terbaik. Dengan menggunakan informasi pelanggan untuk memberikan pelanggan lebih baik bagi kebutuhannya, maka pelanggan tidak perlu berulang kali meminta informasi yang mereka butuhkan kepada perusahaan sehingga menghemat waktu dan mengurangi frustasi mereka.
- Memperkenalkan saluran proses dan prosedur yang konsisten dan dapat ditiru. Dengan perkembangan saluran komunikasi bagi pelanggan, maka semakin banyak karyawan yang terlibat dalm transaksi penjualan, sehingga perusahaan harus meliputi konsistensi proses dan procedural.
MANFAAT/KEUNTUNGAN CRM
Selain beberapa pendapat tentang definisi dari CRM. Manfaat dan keuntungan dari CRM juga terdapat banyak pendapat diantaranya:
1. Penggunaan Customer Relationship Management ( CRM ) memiliki beberapa manfaat yang dapat berpengaruh bagi meningkatnya nilai suatu perusahaan yaitu :
- Meningkatkan Loyalitas Pelanggan; Aplikasi CRM memungkinkan untuk menggunakan informasi dari semua titik dengan pelanggan, baik via web, call center, ataupun lewat staff pemasaran dan pelayanan di lapangan. Konsistensi dan aksepsibilitas informasi ini memungkinkan penjualan dan pelayanan yang lebih baik dengan berbagai informasi penting mengenai pelanggan tersebut.
- Mengurangi Biaya; CRM juga memungkinkan penjualan atau pelayanan dengan biaya lebih murah dalam sebuah skema program pemasaran yang spesifik dan terfokus. Tertuju ke pelanggan yang tepat dan pada waktu yang tepat pula.
- Meningkatkan Efisiensi Operasional; Otomasi penjualan dan proses layanan dapat mengurangi resiko turunnya kualitas pelayanan dan mengurangi beban cashflow. Penggunaan teknologi web dan call center misalnya, akan mengurangi hambatan birokrasi dan biaya serta proses administratif yang mungkin timbul.
- Peningkatan Time to Market; Aplikasi CRM memungkinkan membawa produk ke pasar dengan lebih cepat dengan informasi pelanggan yang lebih baik, adanya data trend pembelian oleh pelanggan.
- Peningkatan Pendapatan; Aplikasi CRM menyediakan informasi untuk meningkatkan pendapatan dan keuntungan bagi perusahaan. Dengan aplikasi CRM, perusahaan dapat melakukan penjualan dan pelayanan melalui website sehingga peluang dari penjualan secara global tanpa perlu menyediakan upaya khusus untuk mendukung penjualan dan pelayanan tersebut.
- Menjaga pelanggan yang sudah ada
- Menarik pelanggan baru
- Cross Selling: menjual produk lain yang mungkin dibutuhkan pelanggan berdasarkan pembeliannya
- Upgrading: menawarkan status pelanggan yang lebih tinggi (gold card vs. silver card)
- Identifikasi kebiasaan pelanggan untuk menghindari penipuan
- Mengurangi resiko operasional karena data pelanggan tersimpan dalam satu system
- Respon yang lebih cepat ke pelanggan
- Meningkatkan efisiensi karena otomasi proses
- Meningkatkan kemampuan melihat dan mendapatkan peluang
- Menjaga pelanggan yang sudah ada
- Menarik pelanggan baru
- Cross Selling : menjual produk yang dibutuhkan pelanggan berdasarkan pembeliannya
- Upgrading: menawarkan status pelanggan yang lebih tinggi
- Perusahaan dapat merespon keinginan pelanggan lebih cepat
- Dan lain sebagainya.
Sebagian Sistem yang Ada Disalah 1 Bank di Indonesia
SISTEM APLIKASI PERBANKAN
Pengertian sistem aplikasi
perbankan adalah penggunaan komputer dan alat-alat pendukungnya dalam
operasional perbankan yang meliputi pencatatan, penghitungan, peringkasan,
penggolongan, dan pelaporan semua kegiatan di bidang perbankan. Kegiatan
tersebut bisa meliputi administrasi, akuntansi, manajemen, pemasaran, atau
bidang lain yang mendukung kegiatan perbankan.
Untuk kasus bank-bank di
Indonesia, bisa dikatakan belum ada sistem aplikasi bank yang bisa
dikategorikan sebagai fully integrated. Sistem aplikasi yang bisa dikatakan
hampir semua bank sudah menerapkan sebagian atau seluruhnya adalah sistem
pengolahan aplikasi (application processing system) yang berkaitan dengan
pengelolaan dana masyarakat (deposit application system). Sistem aplikasi yang
akan dikaji dalam modul pelatihan ini adalah aplikasi general ledger, aplikasi
tabungan, dan aplikasi giro.
Kriteria pemilihan software
komputer yang baik sesuai dengan kebutuhan Bank secara umum berdasarkan
pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut :
1. Kemampuan Dokumentasi Atau
Penyimpanan Data
Jenis dan klasifikasi data Bank
yang relatif banyak harus bisa ditampung oleh software yang digunakan, termasuk
pertimbangan segi keamanan datanya. Kemampuan dokumentasi ini sebanding dengan
kapasitas kerja dan jumlah nasabah yang dilayani Bank. Jumlah data atau nasabah
semakin banyak memerlukan memory komputer yang lebih besar untuk menampung Data
Base-nya dengan tetap memperhatikan kecepatan proses pengolahan datanya.
Sebagai contoh, Bank yang kapasitas kerjanya relatif kecil, misalnya hanya
mempunyai 1 kantor, dengan jumlah nasabah hanya ratusan orang, kurang tepat
jika menggunakan program yang dijalankan pada mesin besar, misalnya AS 400.
2. Keluwesan (Flexibility)
Operasional Bank selalu
berkembang dengan kebutuhan yang berubah-ubah walaupun informasi dasarnya tetap
sama. Kondisi ini harus bisa diantisipasi oleh software komputer sampai batas
tertentu. Setiap Bank mempunyai sistem dan prosedur yang berbeda meskipun data
atau informasi dasar yang diolahnya sama. Software komputer yang fleksibilitas
tinggi dapat digunakan oleh dua buah bank yang kapasitasnya sama tetapi sistem
dan prosedurnya berbeda.
3. Sistem Keamanan (Security
System)
Sistem keamanan data merupakan
faktor yang sangat penting di bidang perbankan mengingat fungsinya sebagai
lembaga kepercayaan yang sebagian besar dana yang dikelolanya dimiliki
masyarakat. Software komputer perbankan harus bisa mencegah pengaksesan data
keuangan nasabah atau penyalahgunaan data keuangan oleh pemakai yang tidak
bertanggung jawab. Secara teknis, hal tersebut umumnya diterjemahkan dalam
bentuk penggunaan User Id dan password, fasilitas back up data, atau penggunaan
sandi-sandi data bank yang digunakan pada system aplikasi.
4. Kemudahan Pengoperasian
(User Friendly)
Pengertian mudah dioperasikan
bukan berarti setiap pemakai (user) bias mengakses ke software tersebut tetapi
setiap petugas yang berwenang mudah mengoperasikan proses yang menjadi tanggung
jawabnya. Tahap input, proses, dan output data pada software tersebut tidak
menjadi penghambat dalam kegiatan perbankan secara keseluruhan. Sistem aplikasi
komputer yang baik bahkan dapat mendeteksi kesalahan pengoperasian (error
message) dan memberikan petunjuk pemecahan masalahnya.
5. Sistem Pelaporan (Reporting)
Data atau informasi yang
dibutuhkan harus bisa disajikan dalam bentuk yang jelas dan mudah dimengerti.
Bank memerlukan laporan-laporan yang lengkap dan jelas tersebut terutama dalam
proses pemeriksaan (audit) atau penyajian laporan yang bisa dimengerti oleh
pihak-pihak lain dengan harapan keuangan setiap Bank menjadi lebih transparan.
6. Aspek Pemeliharaan
(Maintenance)
Kinerja software komputer
diharapkan relatif stabil selama Bank beroperasi. Kondisi ini memerlukan aspek
pemeliharaan yang baik, baik teknis peralatan maupun modifikasi/pengembangan
software. Software perbankan harus mudah dipelihara misalnya penggantian suku
cadang hardware yang cepat, perbaikan kinerja proses pengolahan data, serta
kemudahan mendeteksi dan memperbaiki kesalahan program.
7. Sources Code
Software yang digunakan dalam
operasional perbankan biasanya merupakan program paket yang sudah di-compile
(executed program). Program tersebut relative tidak bisa dirubah atau
dimodifikasi seandainya pihak Bank menginginkan perubahan atau fasilitas
tambahan dari software tersebut. Kondisi ini bisa diatasi jika pihak Bank
mempunyai dan memahami software tersebut dalam bentuk bahasa pemrograman
aslinya (source code/program). Pertimbangan modifikasi source program ini
sangat penting untuk mengantisipasi kedinamisan sektor perbankan sehingga
software komputer yang terpilih relatif bisa digunakan untuk jangka waktu yang
lama tanpa membeli paket software baru.
Bank Pundi Indonesia adalah bank swasta
nasional Indonesia.
Nama Brand Bank Pundi diambil
dari bahasa Jawa yang berarti “dompet; kantong; kandung; junjungan”, sebuah
wadah yang biasa digunakan sebagai tempat untukmenyimpan uang atau barang
berharga. Nama ini melambangkan kehadiran Bank Pundi sebagai bank yang terpercaya
dan dekat dengan rakyat Indonesia untuk menjadi “pundi-pundi” yang mendukung
keberdayaan dan kemakmuran rakyat dengan bisnis UKM dan Usaha Mikronya yang terus
berkembang.
Brand Pundi
menempatkan diri sebagai “satu-satunya” brand yang memiliki
pemahaman yang mendalam akan keberagaman masyarakat Indonesia dengan segala
dinamika dan kebutuhan finansialnya yang berorientasi kepada pencapaian
kemakmuran dan masa depan yang gemilang melalui sinergi kemitraan.
SEJARAH
PT. Bank Pundi Indonesia, Tbk.
("Perseroan") berdiri pada tanggal 11 September 1992 dengan nama PT.
Executive International Bank sebagaimana yang termaktub dalam Akta Perseroan
No.34 yang dibuat dihadapan Sugiri Kadarisman SH., Notaris di Jakarta dan telah
mendapatkan pengesahan dari Menteri Kehakiman melalui Keputusan
No.C2-9246-H.T.01.01 serta diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia
No.103 tanggal 26 Desember 1992, Tambahan No.6651. Pada tanggal 9 Agustus 1993
Perseroan mulai beroperasi sebagai Bank Umum di Jakarta berdasarkan Surat
Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No.673/KMK.017/1993 tanggal 23
Juni 1993 Tentang Pemberian Izin Usaha PT. Executive International Bank. Nama
Perseroan kemudian diubah menjadi PT. Bank Eksekutif Internasional berdasarkan
Akta Berita Acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa No.65 tanggal 16 Januari
1996 yang dibuat dihadapan Frans Elsius Muliawan SH., Notaris di Jakarta dan
telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No.78 tanggal 27
September 1996, Tambahan No.8331.
Bank Pundi (d/h Bank Eksekutif) berkembang
menjadi Perusahaan Terbuka setelah pada tanggal 22 Juni 2001 memperoleh
Pernyataan Efektif dari Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) melalui surat
No.S-1531/PM/2001 untuk melakukan Penawaran Umum Perdana sebanyak 277.500.000
saham dengan nominal Rp.100,- kepada Masyarakat dan mencatatkan saham tersebut di
Bursa Efek Jakarta pada tanggal 13 Juli 2001 dengan kode saham BEKS.
Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa yang
diadakan pada tanggal 30 Juni 2010 telah menyetujui perubahan nama Perseroan
dari PT. Bank Eksekutif Internasional, Tbk., menjadi PT. Bank Pundi
Indonesia,Tbk. seiring kesepakatan masuknya PT. Recapital Securities sebagai
Pemegang Saham Pengendali yang diputuskan di dalam Rapat yang sama. Masuknya
PT. Recapital Securities sebagai Pemegang Saham Pengendali Perseroan sebelumnya
telah mendapatkan persetujuan Bank Indonesia melalui
surat No.12/84/GBI/DPIP/Rahasia tanggal 29 Juni 2010. Demikian pula dengan
perubahan nama Perseroan telah mendapatkan persetujuan dari Menteri Hukum dan
Hak Asasi Manusia Republik Indonesia melalui suratnya No.AHU-3740.AH.01.02
tanggal 28 Juli 2010 Tentang Akta Perubahan Anggaran Dasar Perseroan dan telah
mendapatkan pengesahan pula dari Bank Indonesia melalui Keputusan Gubernur Bank
Indonesia No.12-58-KEP.GBI/2010 tanggal 23 September 2010 Tentang Perubahan
Penggunaan Izin Usaha Atas Nama PT. Bank Eksekutif Internasional, Tbk., menjadi
Izin Usaha Atas Nama PT. Bank Pundi Indonesia, Tbk.
Selain pada komposisi Pemegang Saham dan nama
Perseroan, perubahan juga terjadi dalam penerapan strategi bisnis. Sebelumnya
Perseroan lebih fokus kepada sektor korporasi, kini Bank Pundi menitikberatkan
strategi pada pengembangan pembiayaan di sektor Usaha Mikro serta
Usaha Kecil dan Menengah (UKM).
Guna mendukung fokus pembiayaan tersebut, struktur pendanaannya pun diarahkan
kepada dana-dana ritel (retail funding). Perubahan strategi bisnis ini
selaras dengan konsep kesetaraan menuju kemakmuran dengan mengedepankan
pemberdayaan Usaha Mikro serta Usaha Kecil dan Menegah (UKM) sesuai dengan konsep
yang merupakan buah pemikiran dari Recapital Group, yaitu Rosan P. Roeslani
dan Sandiaga S.Uno.
Hasil transformasi bisnis yang
dilakukan oleh Bank Pundi sejak tahun 2011 terlihat dengan terus bertumbuhnya
kantor-kantor cabang di berbagai kota besar dan semakin meningkatnya jumlah
karyawan yang medukung operasional Perseroan. Di akhir tahun 2012 Kantor Cabang
Bank Pundi telah tumbuh menjadi sebanyak 207 kantor yang tersebar di hampir
seluruh kota besar di Indonesia dari ujung Sumatera hingga Papua dengan jumlah
karyawan sebanyak 8.200 orang dari sebelumnya 187 kantor dengan jumlah karyawan
sebanyak 6.691 orang pada tahun 2011. Kemudahan untuk bertransaksi pun
disediakan dengan menempatkan 68 buah Anjungan Tunai Mandiri (ATM) dan lebih dari 40.000
ATM PRIMA dan ATM Bersama di
berbagai tempat yang strategis. Semua ini bertujuan untuk meningkatkan
pelayanan kepada seluruh nasabah.
adapun ketika kami mensurvei/bertanya
kepada karyawan di bank tersebut mengenai sistem apa saja yang di pakai di bank
tersebut kami mendapat jawaban yaitu sistem komputerisasi yang digunaka
adalah alphaBITS core system, berikut adalah penjelasan
tentang alphaBITS core system:
Alpha BITS adalah sistem core
banking untuk operasi sehari-hari yang menghubungkan link di thechain kegiatan
perbankan terkait. Sistem ini mencakup aspek yang luas seperti saluran
pengiriman untuk teller dan customer service, dan fungsi back office seperti
akuntansi dan urusan umum. Dikembangkan sebagai aplikasi perbankan standar
industri, Alpha BITS menawarkan fungsionalitas yang terintegrasi dengan enam
modul utama: kernel dan keamanan, CIF, retail, deposito, pinjaman, dan buku
besar. Sistem ini menyediakan mulus point-to-point transisi misalnya dari
parameter meja dan informasi pelanggan merekam saat pembukaan rekening untuk
pengelolaan pinjaman dan neraca pengolahan untuk eksekutif pengambilan
keputusan. Seperti berjalan pada jaringan terpusat, Alpha BITS mendukung
koneksi antar cabang online. Hal ini membutuhkan upaya minimum untuk
menginstal, membutuhkan PC sederhana atau terminal bodoh dengan modem-router
yang terhubung ke server pusat di lokasi yang ditunjuk seperti kantor pusat.
Arsitektur desain Alpha BITS membantu itu antarmuka dan mengintegrasikan dengan
aplikasi pihak ketiga.
Sedangkan sistem jarngan yang
digunakan pada bank tersebut iyalah sistem jaringan dari telkom yaitu speedy,
berikut tentang penjelasan speedy: SPEEDY adalah merupakan layanan broadband
akses internet dari Telkom Indonesia berkualitas tinggi bagi perumahan serta
SME (Small Medium Enterprise).
Speedy menggunakan teknologi
ADSL (Asymmetric Digital Line Subscriber), MSAN (Multi Service Access Node),
dan GPON (Gigabit Passive Optical Network), yang menghantarkan sinyal digital
berkecepatan tinggi melalui jaringan telefoni secara optimal bagi keperluan
konsumsi konten internet, dengan kecepatan data dari 384 kbps hingga 100 Mbps.
Tetapi tidak menutup kemungkinan penggunaan teknologi baru lain yang lebih
baik/terbaru.
Saat ini Telkom menyediakan 3
(tiga) jenis layanan Speedy:
- Speedy Reguler: merupakan produk layanan internet
broadband yang diperuntukkan bagi pelanggan perumahan (family) atau
personal yang hanya membutuhkan akses internet standar misalnya untuk
keperluan browsing, chatting, gaming, download email, dan lain-lain.
Speedy Reguler ditawarkan dalam paket berlangganan dengan kecepatan mulai
dari 384 kbps – 100 Mbps, tergantung kondisi jaringan setempat.
Karakteristik:
- SLG (Service Level Guarantee) standard
untuk segmen perumahan.
- Asymmetric dengan perbandingan upstream
jauh lebih kecil dari downstream.
- Abonemen / berlangganan.
- Unlimited.
- Cara pembayaran Postpaid.
- IPPublik Dinamik (DHCP - Dynamic Host
Configuration Protocol).
- Port TCP 25 (SMTP service) hanya dibuka ke
SMTP yang disediakan TELKOM yaitu smtp.telkom.net port 25.
- Dapat disisipi advertising.
Informasi Paket dan Harga Speedy Reguler silakan
hubungi 147.
- Speedy Instan: merupakan produk yang diluncurkan oleh
TELKOM sebagai salah satu upaya untuk menyediakan layanan broadband yang
siap pakai oleh pelanggan (Pay as you use). Pelanggan yang belum
berlangganan paket Speedy Reguler dapat menggunakan layanan broadband
dengan cara membeli paket harian baik prepaid maupun postpaid.
Karakteristik:
- SLG (Service Level Guarantee) standard
untuk segmen perumahan.
- Asymmetric dengan perbandingan upstream
jauh lebih kecil dari downstream.
- Pay As You Use.
- Limited sampai kuota waktu habis.
- Cara pembayaran Prepaid atau Postpaid.
- IP Publik Dinamik (DHCP - Dynamic Host
Configuration Protocol).
- Port TCP 25 (SMTP service) hanya dibuka ke
SMTP yang disediakan TELKOM yaitu smtp.telkom.net port 25.
- Dapat disisipi advertising.
Informasi Speedy Instan tersedia di
link: Speedy Instan
- Speedy Gold: merupakan produk layanan internet
broadband yang diperuntukkan bagi pelanggan SME (Small Medium Enterprise)
yang membutuhkan layanan internet untuk keperluan bisnis, misalnya mail
server kecil, web server pribadi, warnet dll. Speedy Gold ditawarkan dalam
paket berlanggan dengan kecepatan mulai 512 kbps – 100 Mbps.
Karakteristik
- SLG standard untuk segmen bisnis.
- Asymmetric dengan perbandingan upstream
lebih kecil dari downstream (kualitas lebih baik dari Speedy Reguler).
- Abonemen / berlangganan.
- Unlimited.
- Cara pembayaran Postpaid.
- 1 IP Publik Statik (DHCP) sesuai permintaan
customer.
- Port TCP 25 (SMTP service) hanya dibuka ke
SMTP yang disediakan TELKOM yaitu smtp.telkom.net port 25.
- Tidak disisipi advertising.
ketika kami menanyakan sejak kapan memakai sistem itu, karyawan bank tersebut memberi tahu kalau sejak dia masuk ke bank tersebut, bank tersebut sudah mengguna kedua sistem itu
http://www.inntron.com/banksys/sigma.htm


